Wednesday, October 23, 2019

Sayang

"SAYANG, NANTI KITA JUMPA DI SURGA..."

Petang tadi saya menerima panggilan telephone, pemanggil tersebut  meminta saya untuk mengurus jenazah ibunya yang baru meninggal dunia.
Dengan adanya amanah, maka segera saya bergegas ke rumah duka,  yang letaknya tidak jauh dari kediaman saya.

Setiba saya disana hari sudah lewat petang. Banyak peziarah, yang terdiri daripada sanak saudara, tetangga dan handai tolan yg sudah memenuhi rumah duka.

Saya melangkah masuk, bertemu dengan suami dan anak-anak Almarhumah.
Setelah rapat Keluarga, kami mendapat keputusan, bahwa pengurusan jenazah akan dilaksanakan esok hari karena  hari sudah terlalu malam.
Malam itu jenazah hanya dibersihkan dengan  mengelap tubuhnya menggunakan kain sambil dibantu  anak-anaknya seramai empat org, 2 lelaki.. 2 orang perempuan. Kesemuanya sudah besar dan beberapa diantaranya sudah menikah.

Kesokan harinya pagi sekali saya sudah tiba dirumah tersebut. Pada saat akan memandikan jenazah, salah seorang anak datang kepada kepada saya, dan berkata ;

*_"Bolehkah kami memandikan sendiri jenazah ibu kami?"_* tanya si anak tadi.

*_"Boleh"_* jawab saya, dengan senang hati mendengar permintaan si anak.
Memang itulah sebaik-baiknya. Lebih afdal anak sendiri yang uruskan jenazah ibu bapa mereka.

*_"Tapi Ustazah, kami tidak pernah melakukan nya, kami tak tahu apa². Ustazah ajarkanlah kami",_* kata seorang lagi anak perempuan.

*_"Tidak  masalah, saya akan mendampingi dan memberi petunjuk_* jawab saya.

Saya mengingatkan anak perempuan saja, rupanya 2 orang anak lelaki & suami Almarhumah juga ingin turut serta memandikan jenazah.

Atas permintaan mereka, saya menyetujuinya, karena Islam tidak melarang, memang seorang suami boleh memandikan jenazah isterinya dan begitulah sebaliknya.

Namun dikarenakan anak2 lelaki juga ingin memandikan, maka saya terpaksa  membagi tugas.
Si suami, saya minta bersihkan bahagian kepala, anak lelaki di bahagian kaki & anak perempuan dari bahagian badan dan ke bagian paha.

*_"Gunakan sarung tangan masing"._* Ujar saya sambil menghulurkan sarung tangan karet untuk digunakan bagi memandikan jenazah. Tapi, suami & anak² menolak.
*_"Semasa kecil, ibu mandikan kami  tidak pernah pakai sarung tangan. Kami  tak mau memakainya",_* tolak si anak lembut.

Saya sedikit tersentak mendengar kata² itu. Kagum dengan  jawapan si anak. Terharu saya mendengarnya.

Kemudian, saya pegang ciduk dan guyurkan air ke muka jenazah. Si Suami lalu bersihkan wajah isterinya. ketika Si suami membersihkan wajah isterinya, satu drama yang menyayat hati & penuh emosi berlaku.

Sambil menggosok lembut wajah jenazah isterinya, si suami tadi mengungkap kembali satu persatu segala kenangan nya ketika mereka hidup bersama.

*_"Sayang...inilah wajah manis yang abang tatap masa hidup. Inilah wajah yang abang pernah sayang. Wajah yang pernah jadi isteri Abang",_* tutur suami sambil tangan lembut membersihkan  wajah jenazah isteri tercinta.

Selesai muka, suami tadi beralih pula ke mulut, sekali lagi ungkapan manis terpancul dari mulut si suami.
*_"Sayang...inilah mulut yang selalu  senyum pada abang. Inilah mulut yang selalu bersenda gurau dengan abang, menghibur abang selama ini, mulut yang berikan  abang semangat ketika menghadapi masalah",_* ungkapnya dengan linangan air mata.

Saya yang menyaksikan tindakan spontan suami itu turut menjadi terharu. Terharu mendengar kata² ikhlas dari  suaminya. Saya tahu ini suami yang benar-benar sayang pada isterinya.

Selesai bagian si ayah, 2 anak perempuannya pula mengambil tempat. Sekali lagi hati saya tersentuh hingga jadi tersedan. Sambil membersihkan tangan si ibu, anaknya menyampaikan segala jasa ibu mereka.

*_"Ibu, inilah tangan yang besarkan kami, didik kami, tangan inilah yang suapkan makanan ke mulut kami. Inilah tangan yang dodoikan kami, jari jemari ini yang kesatkan airmata kami. Tangan ini juga yg dukung kami sewaktu kecil. Ibu.. jasa ibu amat besar",_* tutur seorang anak perempuannya. Air matanya masih mengalir.

Pabila sampai ke bagian perut, seorang lg anak perempuannya bersuara, *_"Ibu, inilah perut yang mngandungkan kami, terima kasih ibu, lahirkan kami, didik & besarkan kami"_* ungkap si anak tersebut. Air mata mereka terus berjujuran.

Bukan hanya mereka, saudara yang menyaksikan turut menangis, apalagi saya yg berada di sisi mereka.
Sungguh, waktu itu terasa begitu hening. Suasana sangat pilu. Menyaksikan semua kata² ikhlas ini dari suami dan anak2 si mati.

Setelah selesai tugas anak perempuan, anak lelaki pula menyelesai kan tugas bagian mereka. Sambil membersihkan kaki, mereka meluapkan segala jasa² wanita yang melahirkan mereka itu.

*_"Ibu, inilah kaki yang berjalan mencari rezeki untuk kami. Kaki inilah yang besar kan kami. Kaki inilah yang bawa kami bersiar-siar², hiburkan kami, jasa ibu tak terbalas. Terima kasih ibu",_* ujar anak lelaki dengan suara tersekat-sekat.
Menyaksikan semua itu, air mata saya tak dapat dibendung lagi. Sesekali saya berpaling ke arah lain, menghapus air mata yang kian laju mengalir.

Sudah banyak jenazah yang saya mandikan, tapi inilah pertama kali saya menyaksikan adegan yang sangat menyentuh jiwa. Hati saya tersentuh sedih sekali

Setelah semua anak selesai, saya mengambil giliran semula. Saya membersihkan bahagian dubur. Tapi si suami menolak karena dia ingin melakukannya sendiri.

*_"ini isteri saya, biar saya yang lakukan Ustazah tolong ajarkan saya",_* tutur si suami.

Sekali lagi saya menyetujui dengan kehendaknya. Saya arahkan si suami supaya menekan perut secara perlahan-lahan untuk mengeluarkan najis di dubur.

Semasa si suami melakukannya, sekali lagi jiwa saya bagai dirobek². Jiwa saya tersentuh mendengar lafaz ikhlas suaminya. Sambil menekan lembut perut isterinya, si suami bersuara lagi.

*_"Sayang, ini rahim yang melahirkan anak² kita, menghasilkan zuriat kita, terima kasih Sayang",_* tutur si suami lembut dengan matanya brkaca².

Sekali lagi air mata saya tertumpah. Di luar pula, air mata saudara- mereka yang menyaksikan drama itu semakin ikut larut dalam duka.
Saya tahu semua yang menyaksikan terharu. Saya sendiri turut tersentuh dengan sikap keluarga ini. Sungguh, suaminya memang seorang yang baik dan sangat menghormati jasa seorang wanita yg menjadi isterinya.

Selesai dimandikan dengan drama² yang menyentuh jiwa, jenazah dibawa ke ruang tamu untuk dikafankan.

Disinipun kerjasama dilakukan dgn baik oleh anak² & suami  dengan petunjuk dari saya. Walaupun mengambil waktu yang agak lama, semuanya selesai dengan mudah sebelum jenazah dibawa ke tanah perkuburan.

Selesai tugas ini, maka saya serahkan pula kepada suami saya. Selepas kubur & suami saya hendak memulakan bacaan talqin, suami Almarhumah datang  meminta izin.

*_"Ustaz, boleh ke saya nak  bacakan talqin untuk isteri saya?"..._* tanya dia kepada suami saya.

Suami saya mengangguk dan si suami tadi mengambil tempat di sebelahnya. Dalam keadaan suara yang serak kerana masih bersedih, si suami tadi  memulakan bacaan. Bacaan kali ini memang lain sekali dari kebiasaannya.

*_"Sayang, hari ini adalah hari terakhir kamu di muka bumi ini. Kamu berpisah dengan anak², Ayang berpisah dengan Abang.*
*Sayang..  malam ini Abang akan berteman hanya dengan anak-anak di sisi Abang"._*

*_"Sayang, nanti akan datang malaikat mungkar dan nakir bertanya.. Siapa Tuhan kamu? Siapa Nabi kamu? Apakah agama kamu? Apakah kiblat kamu? Apakah pegangan iktikad kamu? Siapakah saudara² kamu?_*

*_"Abang minta tolong dari Sayang, jawab dengan tenang, dengan lidah lancar, Bahwasanya Allah Tuhanku, Muhammad Nabiku, Islam Agamaku, Al-Quran Petunjukku, Org Islam adalah saudara²ku,"_* tutur si suami dgn sedih.

*_"insyaAllah nanti kita akan berjumpa lagi di Syurga. Sayang tunggu Abang di sana. Abang akan tetap merindui adinda Sayang hingga akhir hayat Abang."_*

Sungguh, waktu itu sekali lagi air mata saya berderai, bukan hanya saya saja, hampir semua hadirin lain pun menangis. Saya tahu mereka menangis & bersedih bukan kerana pemergian Almarhumah, tapi tersentuh melihat kejadian tersebut.

Satu drama yang benar-benar nyata, memperlihatkan kasih sayang, kejujuran, kesetiaan dan cinta yang tulus ikhlas dari seorang suami kepada isteri. Kisah kasih sayang antara anak² dan ibu dalam keluarga ini.

Saya benar² kagum dan terharu dengan keluarga tersebut. Si anak bukanlah berpendidikan tinggi atau berlatarbelakang agama bergelar ustaz atau ustazah, tapi mereka semua mempunyai budi pekerti dan akhlak yang tinggi.

Lihat bagaimana mereka menghargai jasa seorang ibu sehingga ke akhir hayat. Bagi saya, mereka jadi begitu adalah hasil didikan seorang ibu yg berhasil memberikan kasih sayang & didikan dengan sempurna.

Sungguh, jenazah wanita hebat yang memiliki suami dan anak² seperti itu.....
Allahu Akbar....😔😭😭

MASIH MAU DZHALIM?

Bismillaah

EMPAT FASE YANG AKAN DI LALUI ORANG² DZHALIM

Banyak orang mengira bahwa hukuman Allaah kepada orang dzhalim itu harus cepat, langsung setelah kedzhaliman.

‏وهذا خطأ ..
‏فالظالم يمر بأربع مراحل لا بد من فهمها جيدا

Ini suatu kekeliruan ..
Orang dzhalim itu melewati 4 fase, ini yang harus dipahami dengan baik oleh kita

المرحلة الأولى :الإمهال والإملاء

‏{وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ}
‏وفيها يمهل الله الظالم لعله يتوب أو يرجع عما فعل.

Fase Pertama : _Al-ImHâl wa Al-Imlâ'
(Pembiaran dan Penangguhan)

‏وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِين(الأعراف : ١٨٣)

"Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka.Sungguh, rencana-Ku amat tangguh dan terencana, kuat, dan tidak ada yang menandinginya."
(Al-A'rôf : 183 )

المرحلة الثانية : الاستدراج

Fase Ke-2 :  Al-Istidrôj
(Menarik sedikit demi sedikit kepada kehancuran, dengan memberikan banyak kenikmatan,kesuksesan,  kemenangan dan melalaikan mereka untuk mensyukurinya).

‏{سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ - الأعراف : ١٨٢}

"..akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui."
(Al-A'rôf : 182)

‏وليس معناة أن تضيق الدنيا عليه،
لا بل تفتح عليه الدنيا وترتفع الدرجة وتبسط عليه اللذات ويعطيه الله ما يطلب ويرجو بل وفوق ما طلب .
‏لأن الدرج يدل على الإرتفاع
‏والدرك يدل على النزول.

Bukan artinya dunia jadi sempit bagi si dzhalim.  Akan tetapi, dunia dibukakan baginya, kedudukannya naik, diluaskan baginya segala kelezatan dunia, diberikan keberhasilan, kemenangan. Allaah beri dia apa yang dia inginkan *dan harapkan, bahkan Allaah kasih lebih dari yang dia inginkan.
karena kata 'ad darj' (الدرج) menunjukkan suatu hal yang tinggi/diatas.
Sedangkan kata 'ad-dark'(الدرك) menunjukkan suatu hal yang rendah/dibawah

المرحلة الثالثة : التزيين

Fase ke-3 :  At-Tazyîn (syetan menjadikan indah perbuatan buruk mereka)

‏{وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ - العنكبوت : ٣٨}

".. syetan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan (buruk) mereka.."
*(Al-'Ankabût : 38*)

‏وفيها يموت قلب الظالم فيرى ما يراه حسنا ، بل هو الواجب فعله لم يعد في قلبه حياة ، ليلومه على ما يفعل

Di fase ini, hati si zholim mati. Ia melihat segala tindak tanduknya adalah baik, bahkan ia melihat hal yang dipandangnya itu wajib dilakukan. Kehidupan di hatinya tidak kembali lagi, kehidupan (hati) yang bisa mencela atas kejahatan yang ia lakukan.

المرحلة الرابعة : الأخذ

Fase ke-4 : _Al-Akhdz(Siksa dari Allaah)

‏{وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ - هود: 102}

"Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri² yang berbuat zhalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat".
(QS Hûd : 102)

‏وفيها تتنزل العقوبة من الله تعالى على ... الظالم وتكون العقوبة شديدة جدا

Di fase inilah adzab dari Allah turun secara berangsur-angsur kepada si dzhalim, dan adzabnya amat perih
(di fase ini)

احفظوا ‏هذه المراحل جيدا
{ فَلَا تَعْجَلْ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّمَا نَعُدُّ لَهُمْ عَدًّا }

Ingat baik² fase² ini !

"Maka janganlah engkau(Muhammad) tergesa-gesa (memintakan adzab) terhadap mereka, karena Kami menghitung dengan hitungan teliti (datangnya hari siksaan) untuk mereka". (QS Maryam : 84)

Allaahu Ta'alaa A'lam,
Semoga bermanfaat.

Tips Menjaga Kesehatan

TIPS AGAR JARANG SAKIT

Beberapa cara hidup sehat yg diamalkan oleh RASULULLAH SAW adalah :

1. SELALU BANGUN SEBELUM SUBUH
Bila badan sehat, selalu mandi , sebelum sholat subuh .

2. AKTIF MENJAGA KEBERSIHAN
Baik kebersihan jasmani maupun rokhani

3. TIDAK PERNAH MAKAN BERLEBIHAN
Sabda Rasulullah saw :: "Kami adalah satu kaum yg tdk makan sebelum lapar & bila kami makan tdk terlalu banyak (tdk sampai kekenyangan)."
(Muttafaq Alaih)

4. GEMAR BERJALAN KAKI
RASULULLAH berjalan kaki ke masjid, pasar, medan jihad dan mengunjungi rumah sahabat

5. TIDAK PEMARAH
Nasihat Rasulullah 'jangan marah' diulangi sampai tiga kali. Ini menunjukkan hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasad, tetapi lebih kepada kebersihan jiwa.

6. OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASA
Sikap optimis memberikan efek emosional yg mendalam bagi kelapangan jiwa selain harus banyakkan sabar, istiqamah, bekerja keras serta tawakal kpd ALLAH

7. TIDAK PERNAH IRI HATI
Utk menjaga stabilitas hati dan kesehatan jiwa, kita harus menjauhi dari sifat iri hati

8. PEMAAF
Pemaaf adalah sifat yg sangat dituntut utk mendapatkan ketentraman hati & jiwa

Semoga bermanfaat,Amin

Agar Anak Berbakti

FAEDAH PAGI
▪▪▪▪▪▪

Agar Anak Berbakti Kepada Orang Tua

Allah berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah kalian kembali” [Luqman : 14]

☘Berikut beberapa cara dan usaha orang tua agar anak bisa berbakti :

1⃣.  Berdoa Agar Anaknya Menjadi Anak Yang Berbakti

Doa orang tua untuk anak-anaknya adalah doa yang mudah diijabah oleh Allah. Maka bila orang tua ingin anaknya menjadi anak yang shalih dan berbakti, doakan mereka.

Rasulullah bersabda sebagaimana disampaikan oleh Abu Hurairah,

 ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan).

Allah berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada kami, isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk pandangan (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan: 74)

2⃣. Memberi Teladan

Orangtua perlu memberi contoh kepada anaknya dalam hal berbakti lewat sikap mereka kepada orangtua. Apa yang sudah ia lakukan pada ibu-bapaknya dan apa yang sudah dia lakukan untuk membuat anaknya taat kepadanya. Dalam hadist disebutkan, Rasulullah bersabda,

 بَرُّوا اَبَاءَكُمْ تَبِرُّكُمْ أَبْنَاؤُكُمْ

“Berbaktilah kalian kepada orangtuamu, niscaya anak kalian akan berbakti pada kalian.” (HR. Hakim).

Seperti apa perlakuan kita pada orangtua, hal itulah yang menjadi sebab perlakuan anak kita pada kita. Al-jaza’ min jinsil amal, balasan itu tergantung dengan perbuatan.

3⃣. Membacakan buku cerita sebelum tidur.

Kisah anak anak yang berbakti dan keutamaan mereka, Ada banyak kisah tentang hal ini, misalnya:
1. Kisah tentang tiga orang yang terjebak di dalam goa kemudian dibebaskan oleh Allah lantaran bakti salah satu dari mereka kepada orang tuanya.
2. Kisah Uwais al-qarni, seorang tabiin yang berbakti sehingga setiap doanya dikabulkan.
3. Kisah sahabat yang tak boleh berangkat jihad karena mengurus orang tuanya, dan lainnya. Atau kisah sedih para pendurhaka, seperti kisah Juraij.

4⃣. Menanamkan Adab tata krama.

Imam an-Nawawi menyebutkan satu hadits dalam kitabnya, al-Adzkar, “Nabi melihat seseorang bersama anaknya. Maka Nabi bertanya kepada anak tersebut, ‘siapakah ini yang bersamamu?’, Ia menjawab, ‘Ayahku.’ Lalu Nabi bersabda, ‘jangan berjalan di depannya dan jangan membuatnya marah kepadamu. Jangan pula duduk di depannya dan jangan memanggil namanya langsung.”

Mengajarakan akhlak, sopan santun adalah kewajiban para orang tua. Imam Bukhari menyebutkan perkataan Walid bin Numair dalam al-Adabul Mufrad bahwa dahulu orang-orang shalih berkata, “Kebaikan adalah berasal dari Allah sedangkan adab atau tata krama adalah berasal dari orang tua.” Ketika orang tua tidak mengajarkan akhlak yang baik kepada anaknya besar kemungkinan sang anak akan berperilaku buruk kepada kedua orang tuanya.

Wassalam

Apakah anda pernah melakukan hal ini?

‏أخذ الفتوى عن هؤلاء سبب في انتشار الضلال !

‏قال الشيخ سليمان الرحيلي -وفقه الله-:

‏الفتوى لا تؤخذ من الوعّاظ، ولا تؤخذ ممن يسمون بالدعاة، ولا تؤخذ من مشاهير الإعلام، وإنما تؤخذ من العلماء الذين عُرفوا بتعظيم النصوص،
‏إذا ذُكر النص وقف عنده وسلم له، ودعا الناس إليه ،
‏لا يحمل الناس على ترك
‏النص بفلسفات و آراء لا يدل عليها الدليل
‏هذا العالم الذي يؤخذ منه
‏أما الذين لا يعرفون بالعلم بالكتاب والسنة
‏ولا يعرفون بتعظيم النصوص ويعرفون بالكلام العقلي والآراء
‏فإن هؤلاء لا تؤخذ عنهم الفتوى
‏بل أخذ الفتوى عنهم سبب في انتشار الضلال والعياذ بالله.
‏📖شرح فضل الإسلام ص(٩٧/٩٦)

Mengambil fatwa dari mereka dapat menyebabkan kesesatan menyebar kemana-mana

Berkata Syaikh Sulaiman Ar ruhaili semoga Allah selalu menjaga beliau: Fatwa(keputusan ilmiah) tidak bisa diambil dari penceramah, tidak pula dari orang orang yang disebut Da'i, demikian pula tidak bisa diambil dari orang yang sekedar terkenal karena media, tapi fatwa diambil dari Ulama' yang diketahui menghormati nash(dalil), jika dalil disebut di hadapan nya, dia berhenti padanya, puas dan menerima, dan mengajak manusia berhenti pada dalil, dan tidak mengajak manusia untuk meninggalkan dalil nash, hanya untuk mengikuti ajaran-ajaran filsafat, pemikiran-pemikiran yang tidak berdasar dalil, Ulama yang demikian itulah darinya boleh diambil fatwa.
Adapun orang-orang yang tidak diketahui memiliki ilmu terhadap Al quran dan Sunnah, tidak diketahui menghormati dalil-dalil, bahkan lebih mengutamakan logika-logika, maka tidak boleh mengambil fatwa dari mereka, karena justru mengambil fatwa dari mereka, merupakan sebab tersebarnya KESESATAN.

Penjelasan kitab "Fadlul Islam"

Teman Sholih

☘    Keutamaan
   Berkumpul dengan
 Orang-orang Shaleh


يقول ابن القيم رحمه الله:


مجالسة الصالحين تحولك من ستة إلى ستة:

1- من الشك إلى اليقين.

2- ومن الرياء إلى الإخلاص.

3- ومن الغفلة إلى الذكر.

4- ومن الرغبة في الدنيا إلى الرغبة في الآخرة.

5- ومن الكبر إلى التواضع.

6- ومن سوء النية إلى النصيحة.

Imam ibnul qayyim rahimahullah berkata:

“Berkumpul dengan orang-orang yang sholeh akan mengubahmu dari enam hal kepada enam hal:

1. Dari keraguan (dalam perkara agama) menjadi yakin.

2. Dari sikap riya’ menjadi ikhlas dalam beribadah.

3. Dari lalai untuk berdzikir menjadi senantiasa berdzikir.

4. Dari ambisius dunia menjadi cinta akhirat.

5. Dari sifat sombong menjadi penuh tawadhu’.

6. Dari niat yang buruk dalam berbicara menjadi senantiasa memberi ikhlas memberi nasihat.

Ya Allah anugerahkanlah kepada kami teman-teman yang sholeh…

“Seseorang tanpa teman yang sholeh maka bagaikan tangan yang tak memiliki jari”

(Ust Ahmad Zainuddin)

Benarkah? Mulutmu harimau mu

UCAPAN KEJI ORANG “SHALIH”

Thaha Husein.
Namanya adalah legenda.
Legenda modernisasi dan liberalisasi.
Setidaknya di Mesir.
Meski kemudian efeknya ke mana-mana.
Termasuk di Indonesia.

Sepulangnya dari Perancis...
Thaha Husein “menggila” dengan ide-ide barunya.
Memporak-porandakan tatanan Islam
di bumi Kinanah;
negeri para qurra’,
tanah air para fuqaha’ dan ulama,
kampung halaman para mujahidin...

*

Tapi mungkin tidak banyak yang tahu:
Jika Thaha Husein seorang penghafal al-Qur’an.
Matanya buta sejak kecil.
Ia pun dimasukkan ke salah satu “kuttab”
untuk kemudian melewati hari-harinya
bersama ayat demi ayat al-Qur’an,
mengukirnya dalam hafalan yang kukuh.

Hingga akhirnya,
Thaha Husein berhasil menuntaskan hafalannya
sebelum usianya menggenapi 10 tahun!

Hingga terjadilah hari itu dalam hidupnya...
Hari di saat ia ikut dalam sebuah musabaqah,
untuk membuktikan kualitas dirinya
sebagai seorang “hafizh”;
sebuah gengsi yang diimpikan banyak kaum beriman...

Hingga akhirnya satu “syekh” penguji memanggilnya.
Tapi tidak dengan panggilan biasa.
Setidaknya untuk seorang anak buta
yang membaktikan masa kecil untuk Kitabullah.
“Syekh” itu memanggilnya: “Hai Anak buta!”

Begitulah kononnya...

Pendek saja kalimat itu.
Tapi sudah cukuplah ia mengubah segalanya.
Panggilan keji dari lisan “orang shalih” itu
lebih sembilu di hati Thaha Husein dari apapun.

Sejak hari itu,
Thaha bergolak penuh benci
pada semua yang beraroma “al-Azhar”!
(meskipun ia sempat belajar di al-Azhar).
Ia benci pada ulama.
Pada apapun yang beraroma “agama”.

Benar sekali.
Cukup dengan “Hai Anak buta!”,
“Syekh yang shalih” itu telah melahirkan
Seorang Thaha Husein yang kita kenal hari ini:
Seorang pemikir yang tersimpang jalan,
yang mendorong wanita Mesir menanggalkan hijabnya,
yang menginspirasi lahirnya liberalis-liberalis baru,
yang buku-bukunya menjadi rujukan para Zindiq,
yang kebijakannya saat menjadi menteri pendidikan Mesir
“meruntuhkan” nilai-nilai Islam di banyak lininya...

*

Lisan sungguh tak bertulang.
Lisanmu adalah jejak surgamu,
atau jurang nerakamu...

Betapa kita, orang-orang yang merasa shalih;
“hanya” karena tekun merangkai sujud demi sujud,
“hanya” karena tekun merapal tasbih dan dzikir,
“hanya” karena janggut bertumbuh dan hijab terjulur,
Seringkali tak tertahankan nafsu jiwa untuk menyemat:
gelar-gelar tak patut pada selain kita...
cap-cap busuk pada yang kita anggap pendosa...

Susah benar hamba yang katanya “penuntut ilmu” ini:
untuk berhalus-lembut pada sesama kaum mukminin.
Untuk menimbang kata sebelum terucap.

Kita tak pernah tahu –wal ‘iyadzu biLlah-:
Mungkin ada satu kata kita dahulu
yang akan melahirkan “Thaha Husein” baru...
Kata yang tak pernah kita timbang
dengan timbangan akhirat yang abadi.

*

Wahai para ustadz-ustadzah...
Wahai para ayah-bunda...
Wahai para guru...
Wahai engkau yang bercakap di hadapan​ kamera...
Wahai engkau yang menoreh kata di latar maya...
Timbang-timbanglah dengan jiwa,
agar kata yang tercurah hanya membawa bahagia
untuk jejak-jejak akhiratmu di sana...

Bukan sekedar kata
yang puaskan nafsu bicara dan amarah kebencian.
Sebab jika kata-katamu
hanya untuk itu:
hanya sesal sahajalah yang kau tuai
di hari akhiratmu...

Ustadz Dr. Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc, MA